Konflik Iran-Israel, Berdampakkah ke Perekonomian Indonesia?

Iran

DasFacto – Iran beberapa waktu lalu berhasil melancarkan serangan kepada Israel melalui ratusan drone dan rudal bertubi-tubi.

Dimana ketegangan konflik Iran-Israel tersebut pada akhirnya menimbulkan dampak politik dan militer yang signifikan.

Serangan ini merupakan yang terbesar yang pernah dilakukan oleh negara mana pun menggunakan pesawat tak berawak, dan ini pertama kalinya Iran menyerang Israel secara langsung setelah hampir setengah abad menjadi musuh bebuyutan.

Baca Juga: Tempat Wisata di Solo yang Bisa dikunjungi saat Lebaran

Diketahui motif serangan ini adalah sebagai balasan atas serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus pada awal April.

Dampak dari serangan ini terhadap perekonomian Iran, yang sudah bermasalah, kemungkinan lebih rendah dibandingkan dengan dampak politik dan militer yang menjadi pertimbangan para pemimpin Iran dalam merencanakan serangan ini, yang dilakukan dalam waktu hampir dua minggu setelah serangan terhadap konsulat.

Namun, pasar lokal langsung merasakan dampaknya dengan mata uang asing menguat karena meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik menjadi perang regional. Mata uang nasional Iran, Rial, mengalami penurunan ke level terendah sekitar USD670.000 pada hari Minggu sebelum akhirnya menguat kembali.

Baca Juga: Doa Mengelus Perut Istri Hamil agar Sehat dan Selamat

Laporan dari situs berita semi-resmi Tasnim menyebutkan bahwa aktivitas perdagangan mata uang dan emas di Teheran dan pasar lainnya sangat minim, karena atmosfer kehati-hatian mendominasi. Selain itu, kantor kejaksaan Teheran mengumumkan pembukaan kasus terhadap seorang jurnalis dan surat kabar Jahan-e Sanat karena dianggap mengganggu keamanan psikologis masyarakat dan atmosfer ekonomi negara.

Lalu Adakah Dampak Signifikan dari Konflik Iran-Israel Terhadap Perekonomian Indonesia?

Menurut Ibrahim Assuaibi selaku pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka menyatakan bahwa dampak konflik antara Iran dan Israel terhadap perekonomian Indonesia diperkirakan tidak akan signifikan.

Hal ini disebabkan oleh ketahanan ekonomi yang kuat yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi domestik yang terus berlangsung dan progresif.

Menurut pendapatnya, sekitar 60% kontribusi terhadap ekonomi Indonesia berasal dari konsumsi masyarakat. Sehingga selama pemerintah terus memperhatikan kesejahteraan masyarakat melalui program-program. Seperti bantuan sosial, bantuan langsung tunai, dan lain sebagainya, perekonomian Indonesia akan tetap stabil.

Baca Juga: Sakit Autoimun, Enzy Storia Berharap Hamil di Usia Setahun Pernikahan

“Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan konsumsi masyarakat, yang telah terbukti efektif. Indonesia telah mempersiapkan diri dan memiliki strategi untuk menghadapi situasi darurat dalam ekonomi global, seperti yang terjadi selama konflik Rusia-Ukraina. Jika terjadi situasi serius di pasar global, Indonesia akan berfokus pada pertumbuhan dalam negeri,” kata Ibrahim.

Ibrahim juga menyatakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan konflik antara China dan Taiwan, mengingat ketergantungan Indonesia terhadap China yang cukup tinggi.

“Ketergantungan pada ekspor-impor menjadi perhatian utama, tetapi bagian Timur Tengah dan Eropa hanya menyumbang sebagian kecil, sekitar sepertiga. Namun, ada dampak terhadap harga minyak,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *