DPR Kritik Menag Soal Pengaturan Pengeras Suara

bulan ramadhan

DasFacto – Anggota DPR Komisi VIII dari Fraksi PKS, Surahman Hidayat, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang mengusulkan pembatasan penggunaan pengeras suara di Masjid dan Musala selama bulan suci Ramadan 1445 Hijriah.

Surahman menegaskan bahwa adzan yang menandai waktu shalat dan panggilan untuk shalat berjamaah di masjid, merupakan bagian dari syiar Islam yang harus terdengar.

Dia juga mencatat bahwa penggunaan pengeras suara telah menjadi tradisi yang berlangsung lama. Dari masa penjajahan hingga masa reformasi saat ini, tanpa kontroversi.

Pembatasan ini bertentangan dengan prinsip-prinsip toleransi yang telah dipegang teguh oleh umat Islam dan komunitas lain dalam menjalankan ibadah mereka.

Dia juga mengutip pandangan ulama yang menegaskan bahwa hal-hal yang dianggap baik dalam adat merupakan hal yang diperintahkan dalam syariat. Sehingga pembatasan terhadap tradisi tersebut dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas.

Baca Juga: Menu Sahur Sederhana Mulai dari Ayam hingga Ikan

Surahman menegaskan bahwa pembatasan pengeras suara di masjid dan musala tidak seharusnya diterapkan di Indonesia. Dia menyarankan agar Kemenag berdialog dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebelum menerbitkan aturan pembatasan semacam itu, terutama di wilayah yang menjadi minoritas muslim.

Sebelumnya, Menag Yaqut menerbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Agama No 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala pada 26 Februari 2024. Pertauran itu menyarankan agar takbiran Idulfitri dilakukan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam surat edaran tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *