Boikot Produk Pro-Israel, Netizen: Lihat Kondisi Karyawan Lokal Saat Ini!

Aksi Boikot

DasFacto – Aksi boikot produk yang diduga pro-Israel oleh masyarakat Indonesia faktanya tidak hanya berdampak pada beberapa merek seperti KFC, McD, Starbuck, dan Unilever, tetapi juga telah melibatkan pelaku usaha dalam rantai pasok atau pemasok mereka.

Yang lebih mencemaskan, aksi boikot ini juga berdampak pada pendapatan karyawan lokal yang bekerja di perusahaan yang mengelola merek-merek tersebut, terutama bagi mereka yang berstatus karyawan kontrak atau paruh waktu. Hal ini disampaikan oleh beberapa warganet melalui cuitan mereka.

“Efeknya sangat berasa kak buat yang posisi kontrak dan partime. Saya mantan pekerja di sana jadi nanya langsung gimana kondisinya. Ini jadwal coffe shop asal seattle (Starbuck) di salah satu store Semarang. Total 20 partner dan yang bisa on floor harinya hanya 6,” tulis akun X @sto***s**an, Kamis (7/12/2023).

Baca Juga: BRIN Diminta Serius Tingkatkan Riset, Hadirkan Baterai Kendaraan Listrik Kualitas Tinggi

Ditambahkan, kondisi serupa dialami seorang karyawan di Pizza Hut di Semarang yang merupakan ibu beranak satu yang hanya mendapatkan shift kerja sehari dalam seminggu. Hal ini menegaskan dampak boikot ke karyawan lokal terutama karyawan di posisi kontrak dan partime.

Warganet lainnya dengan akun X @t*tc**r**er yang merupakan part timer barista salah satu merek kopi diduga pro Israel mengaku terdampak. Saat ini ia dirumahkan karna tidak kebagian shift kerja, sama seperti teman-teman part timer lainnya.

“Untung masih ada sedikit tabungan…tapi agak bingung juga karna masih ngekost. Sekarang saya lagi nyari-nyari kerjaan/magang bidang copywriting,” tulis akun X @t*tc**r**er.

Baca Juga: Komisi IX Siap Kawal Penetapan UMP-UMK Di Sejumlah Daerah

Lalu warganet dengan akun X @e*in_a**or yang bekerja di merek kopi diduga pro Israel juga mencuitkan terkena pengurangan shift kerja. “Aku kerja di kopi ijo bang, terus terang toko jadi sepi, jam kerja dikurangi, sales turun. Masih baru beberapa bulan, kalo kek gini sampai tahun depan kemungkinan resign awal bulan,” tulis akun X @e*in_a**or.

Dampak Aksi Boikot Produk Pro Israel

Senada, akun X @i*ld**m*e juga mencuitkan “Aku punya sepupu yang kerjanya di Mekdi, posisinya emang belum diangkat jadi karyawan tetap. Udah kurang lebih 1 bulan dia enggak kerja. Jadi sistemnya yang kerja hanya karyawan tetap saja, di luar itu kalau enggak ada pemanggilan atau jadwal jam kerja ya enggak datang,” cuitnya.

Tah hanya karyawan di perusahaan pengelola merek diduga pro Israel saja yang terdampak. Karyawan perusahaan suplier pun terpaksa dirumahkan.

“Kerja di pusat distribusi Unilever. Biasanya kita kirim sekitar 450 ribu karton perhari, tapi sudah sebulan ini turun hampir 40 persen. Dampaknya ya ke buruh bongkar muat, jadi banyak yang dirumahkan dulu dan operator enggak diperpanjang kontraknya,” cuit akun X @z****dr.

Baca Juga: Komisi VIII Harap Bansos Bagi Masyarakat Miskin Tak Sekadar Memberikan ‘Ikan’

“Temanku enggak kerja di SBUX atau McD tapi perusahaannya yang ngurusin warehousenya kah apa gimananya gitu aja kena dampaknya. Katanya gajinya sekarang cuma 60 persen yang dibayarkan itu juga sampai kapan enggak tahu,” timpal akun X @m*eyiii.

“Temanku kerja di kebun pemasok sayur buat McD, sekarang gajinya turun soalnya pesanannya turun banget jauh dibanding sebelum adanya boikot,” imbuh akun X @s*ng***n*.

Nyatanya, aski boikot produk diduga pro Israel sendiri memang turut memicu tanggapan yang beragam dari warganet. Tidak sedikit yang meyayangkan aksi biokot karena berdampak ke karyawan lokal.

Warganet dengan aku X @wa***2*8 bahkan mencuit “Boikot ini itu. Yang kena dampak malah saudara sebangsa sendiri. Gampang sekali diadu domba,” tulisnya.

Lalu akun X @b**o*a mencuit “Sedih banget baca replynya. Semoga yang terdampak cepat mendapatkan solusi dan pekerjaan baru. Dan semoga yang boikot bisa benar-benar bahu membahu memberikan solusi dan lapangan kerja baru,” unggahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *