Reaksi Prabowo Soal Dinasti Politik: Mengapa Hal Itu Salah?

Prabowo Subianto

DasFacto – Prabowo Subianto memberikan respons terhadap pandangan negatif tentang kemungkinan dinasti politik.

Prabowo menyatakan bahwa tidak ada yang salah jika tujuan mereka adalah berbakti kepada rakyat dan negara Indonesia.

“Kami adalah dinasti Merah Putih, dinasti patriot. Kami adalah dinasti yang ingin melayani rakyat. Kalau dinasti yang dipimpin oleh Pak Jokowi ingin berbakti kepada rakyat, mengapa hal itu salah?” ujar Prabowo setelah Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Gerindra di Jakarta, Senin (23/10/2023).

Prabowo juga menegaskan bahwa dia sendiri adalah bagian dari mereka, mengingat dia adalah anak dari Sumitro Djojohadikusumo dan cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo. Namun, dia menekankan bahwa keluarganya bertujuan untuk melayani rakyat dan negara Indonesia.

Baca Juga: Prabowo Akan Temui Megawati Setelah Pilih Gibran Jadi Cawapres

“Saya juga berasal dari dinasti. Saya adalah anak Sumitro dan cucu Margono. Paman saya gugur untuk Republik Indonesia,” kata Prabowo.

Prabowo, bersama dengan partai politik dari Koalisi Indonesia Maju, memilih Gibran Rakabuming sebagai calon wakil presiden.

Gibran adalah putra sulung dari Presiden Jokowi dan saat ini menjabat sebagai Wali Kota Solo setelah memenangkan Pilkada Serentak 2020.

Dipandang Sebagai Kelanjutan Dinasti Politik

Sebagian masyarakat melihat Gibran sebagai bagian dari kekuatan politik yang dibangun Jokowi. Terutama setelah Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan terhadap pasal dalam UU Pemilu yang mengatur tentang syarat calon presiden dan wakil presiden.

MK mengabulkan gugatan tersebut, yang memungkinkan Gibran yang berusia 36 tahun untuk menjadi calon wakil presiden.

Baca Juga: Banteng Muda Indonesia Optimis Ganjar Mahfud Jadi Presiden

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman, membela pandangan negatif ini dan mengingatkan bahwa bahkan dalam negara-negara demokratis seperti Amerika Serikat, terdapat contoh di mana anggota keluarga menduduki jabatan penting dalam politik.

“Yang baru disebut dinasti dalam konotasi negatif ketika terjadi yang namanya nepotisme,” ujarnya.

Menurutnya, yang penting adalah kemampuan dan kompetensi mereka, serta adanya kompetisi yang adil, dan bukan nepotisme yang mencolok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *