Anak selir jadi raja? Begini kisah Pangeran Nangklao yang bernasib mujur hingga dinobatkan jadi raja Thailand

Pangeran Nangklao

DasFacto – Dalam sejarah beberapa kebudayaan, di beberapa kerajaan di masa lalu, memiliki banyak selir termasuk Thailand, merupakan bagian dari sistem atau budaya istana.

Kehadiran banyak selir dapat dianggap sebagai tanda status dan kekuasaan bagi seorang raja. Hal itu pula yang melekat di raja-raja Thailand.

Sejak dulu, konon raja Thailand memiliki istri yang dijadikan permaisuri sekaligus memiliki banyak selir yang mengelilinginya.

Dalam beberapa kebudayaan, memiliki banyak selir dianggap sebagai tanda kemakmuran, kekuatan, dan kemampuan raja untuk memenuhi kebutuhan serta kesenangan pribadinya.

Tak jarang, raja juga memiliki anak dari selir-selirnya. Termasuk kisah raja Thailand, pendahulu Vajiralongkorn yang menjadikan anak selir menjadi penerusnya.

Dikutip dari Youtube Sepulang Sekolah, berikut kisah anak selir yang menjadi raja di Thailand.

Kisah Anak Selir yang Jadi Raja di Thailand

Namanya Pangeran Nangklao, anak raja bergelar Rama III hasil perkawinan selir dengan Rama II.

Dalam video tersebut menjelaskan alasan Pangeran Nangklao diangkat jadi raja di Thailand.

Karena selain umur yang lebih tua Pangeran Nangklao ini juga dianggap berjasa dalam menjaga negara. Dia pernah membantu menggagalkan pemberontakan Pangeran Kshatranichit.

“Paling berkesan dari Rama III ini ya tadi karena dia sebenarnya anak dari selir bukan anak dari ratu,” ujar Youtuber.

Lebih dari itu, selain memiliki nasib mujur, Rama III alias Pangeran Nangklao dikenal sebagai penganut Buddha yang taat dan juga orang dermawan. Sejak menjadi pangeran dirinya kerap memberi makan orang miskin setiap harinya.

Lebih dari 50 kuil dan candi dibangun pada pemerintahnya. Paling terkenal adalah Wat Saket atau Candi Gunung Emas.

Terlepas dari kisah Pangeran Nangklao, beberapa kerajaan memiliki tradisi atau norma budaya yang mendukung praktik memiliki banyak selir.

Hal ini bisa dianggap sebagai bagian dari struktur sosial dan kekuasaan di dalam istana.

Tidak selamanya menjadi selir itu salah dan rugi, menjadi selir dapat memperoleh perlindungan atau dukungan tertentu di dalam istana. Hal ini terkait dengan faktor politik dan stabilitas di lingkungan kerajaan.

Namun, penting untuk dicatat bahwa dalam banyak kasus, keberadaan selir ini juga mencerminkan ketidaksetaraan gender dan kekuasaan yang memungkinkan perlakuan yang tidak selalu adil atau setara terhadap perempuan di masa lalu.

Dalam konteks masa kini, banyak negara telah menggeser budaya dan praktik ini ke arah kesetaraan gender dan penghapusan selir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *